Bagi yang sedang berkunjung, anggaplah rumah sendiri, jangan sungkan-sungkan, kalau ada yang kurang berkenan, mohon tinggalkan pesan atau komentar. Thanx… Patarsono Tinambunan
Bila angin semilir berhembus menerpa tubuh ku,
bila riuh gemuruh ombak di pantai mengusik ketenangan ku, dan…
bila kesepian itu datang menghampiri kesendirian ku…
maka…
disitulah kurindukan dirimu…
disitulah kurenungkan dirimu, dan…
disitulah kuharapkan belaian cintamu.
Maka akupun larut dalam penantian…
Dan,
jauh di lubuk hati ku yang paling dalam,
dirimu kusimpan bagai mutiara.
Yah ! mutiara …
Amin.
Semoga !
Sinar lembayung membentang,
membias di cakrawala,
begitu indah…
Rintik hujan menerpa bumi,
membasahi bumi,
begitu lembut…
Angin sepoi berhembus,
memukul ranting-ranting kering,
daun-daun berdesah,
begitu syahdu…
nyaring…
merdu…
Ku teringat akan dia,
Ku terbayang akan dia, dan
Ku terkenang akan dia.
Begitu jugakah dia ???
Manduamas, dini hari 18 Pebruari 2010
Sang 2009 telah kita tinggalkan,
yang telah menyodorkan aneka bunga-bunga hidup.
Dan sekarang kita menekuni sang 2010,
menerobos segala aral, membendung segala prahara, dan
berpacu bersama hari dan waktu.
Sang 2010 akan bergerak terus tanpa henti,
lambat tapi pasti…
untuk itu mari berjalan sejajar dengan dia agar kita tidak tertinggal.
Manduamas, 11 Pebruari 2010
Kembang di taman boleh layu,
rumput ilalang di padang boleh terbakar, dan
pucuk-pucuk cemara di tepi pantai boleh berguguran….
Namun jauh di lubuk hatiku ,
aku percaya bahwa cinta dan sayangku padamu tidak akan pudar,
karena di dalam hatiku yang paling dalam,
Yah ! mutiara,
mutiara dalam diriku sendiri.
Manduamas, Minggu 07 Pebruari 2010
Patarsono Tinambunan
Manakala angin sepoi berhembus menerpa tubuhku,
manakala sang rembulan tersenyum di cakrawala, dan
manakala embun pagi menyelimuti bumi,
Disaat itulah kurenungkan dirimu,
disaat itula kurindukan dirimu, dan
disaat itulah ku ingin selalu bersamamu.
Berlebihankah ???
Sering kutanya diriku,
sedemikian sejatikah cintaku padamu ?
Terkadang aku sendiripun tak mampu menjawabnya…
Namun yang jelas bahwa, di lubuk hatiku yang paling dalam,
Yah ! mutiara.
Mutiara dalam diriku sendiri.
Semoga!
Manduamas, dinihari Kamis, 05 Pebruari 2010
Bila kita masih bisa saksikan sang surya terbit di ufuk timur dan Tenggelam lagi di ufuk barat, Itu pertanda bahwa Sang Hyang Whidi masih merestui kita berjuang menikmati hidup. Untuk itu mari berpacu … Dan biarkan sang waktu berlalu… Manakala ada kisah manis, pahatkan pada dyari, Dan manakala ada kenangan pahit, kita renungi agar kita semakin mantap dalam menelusuri liku-liku hidup ini, Dan tonggak perjuangan kita pun akan tertancap dengan kokoh. Maka kita pun akan mampu berenang dengan mulus mengarungi samudera hidup ini. Lambat tapi pasti… Dan kita pun akan sampai ke pulau yang kita impikan. Semoga !
Manduamas, 04 Pebruari 2010
Kala mentari merangkak di ufuk barat, Cahaya jinnga kemilau membelah air laut, gemuruh ombak menghempas pantai, Dan angin sepoi berhembus menembus sukma, Hening… Sepi… Sunyi… Kurasakan betapa sejuknya … Angin senja, Kurasakan betapa merdunya … Deru ombak, dan Kurasakan betapa indahnya… Kemilau sinar surya memancar ke cakrawala.
Seberapa besar kah rasa syukur ku untuk semua itu ??? Sedalam samudera dan setinggi cakrawala ??? Jika boleh aku menjawabnya, memang demikian seharusnya.
Manduamas, 02 Pebruari 2010 Patarsono Tinambunan
Kududuk termenung… Sejenak … Terngiang di telingaku, sebegitu dekat, sebegitu halus… Nyanyian anak-anak jalanan… Adakah mereka bernyanyi dengan tulus ??? Adakah mereka menghibur dengan tulus ??? Dan, Adakah mereka bersuka cita dengan tulus ??? Mungkinkah mereka melakukannya jika kebutuhan mereka terpenuhi ??? Mungkinkah mereka berkeliaran di jalanan jika kebutuhan mereka terpenuhi ???, dan Mungkinkah mereka mau melakukan semua itu jika kebutuhan mereka juga terpenuhi ??? Aku rasa tidak… Jika memang begitu adanya, kemanakah mereka harus mengadu ??? Semoga Tuhan mendengar jeritan mereka, yah… Semoga !!!
Manduamas, 31 Januari 2010
Tatkala sang surya terbit di ufuk timur, adakah damai terlihat disana???
Jika mendung bertebaran di angkasa, adakah damai disana ???
Saat rinai hujan menghujam bumi, adakah damai disana ???
Dikala ombak bertalu-talu mengahantam pantai, adakah damai disana ???
Disaat pelangi terlihat membentang di cakrawala, adakah damai disana ???
Disaat angin sepoi berhembus menerpa dedaunan, adakah damai disana ???
dikala petir menyambar bergemuruh, adakah damai disana ???
Dan, Dikala terdengar alunan gemercik air di sungai, adakah damai disana ???
maka aku hanya dapat berkata :
Semoga !!!
Manaka sang surya terbit di ufuk timur, dan kemudian tenggelam lagi di ufuk barat, itu pertanda bahwa sang widi masih merestui kita berjuang untuk hidup. Untuk itu mari kita kenang kembali saat-saat yang silam… Manakala ada langkah yang terseok disana, kita renung… dan manakala ada kenangan manis, kita syukuri, maka tonggak perjuangan kita akan smakin kokoh. Semoga !!!